Saat itu, air sungai mulai meluap sejak Rabu sekitar pukul 16.00 WIB, setelah sebelumnya dilanda hujan deras 5 hari.

Saat itu, sebagian warga mulai mengungsi untuk menyelamatkan diri. Sebagian (umumnya kaum bapak-bapak) bertahan di rumah mereka masing-masing.
“Pukul 16. 30 WIB, air bah semakin besar dan membawa gelondongan kayu dan mulai naik ke darat menghantam pemukiman penduduk,” ungkap Jamin.
Umumnya warga saat itu sudah mengungsi, hanya beberapa kepala keluarga yang bertahan di rumah.
“Perasaan kami airnya gak sampai ke pemukiman penduduk ini, sehingga Rabu malam itu kami naik ke atas masjid untuk menyelamatkan diri, namun tidak ada korban jiwa,” ungkap Salamuddin.

Warga mengatakan, banjir yang sama pernah terjadi pada tahun 2006 silam tapi tak separah saat ini.
Bukan Karena Ilegal Logging
Saat ditanya, apakah banjir bandang itu sebabkan oleh ilegal logging, warga menjawab bukan.
Tapi karena durasi hujan yang berhari-hari menyebabkan gunung-gunung di hulu longsor sekaligus membawa material kayu hanyut.
“Jadi kayu-kayu yang hanyut itu kayu hidup yang longsor dari gunung-gunung, bukan karena faktor ilegal logging,” ungkap warga.

Mematikan Seluruh Tanaman
Dampak banjir bandang di Kecamatan Serba Jadi, Aceh Timur, membuat warga selain kehilangan rumah juga kehilangan sumber ekonomi.
Pasalnya, semua tanaman yang terendam banjir baik sawah maupun tanaman tua semuanya mati.
Amatan, media di lapangan, selain gelondongan kayu yang menimbun pemukiman rumah warga, banjir juga membawa endapan tanah dan pasir.

Tanah dan pasir juga menimbun hampir 1-1,5 meter rumah dan tanaman warga seperti durian, pinang, kakao, rambutan, dan tanaman lainnya yang selama ini menjadi sumber ekonomi warga.(*)
Oleh : Redaksi
Penulis : Seni Hendri
