metropesawat.com, ACEH TIMUR –
Selain langka harga semen melonjak drastis hingga mencapai Rp 92-93 ribu per zak per Selasa (4/7/2027) hari ini.
Hal ini dipicu karena masifnya pembangunan di Aceh, khususnya Aceh Timur saat ini pasca musibah banjir yang melanda Aceh akhir November 2025 lalu.
Sebagaimana diketahui, pemerintah dibawah Kepemimpinan Presiden Prabowo saat ini sedang memacu progres pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), proyek revitalisasi satuan pendidikan dari semua jenjang. Mulai dari satuan pendidikan tingkat TK/PAUD, SD, SMP hingga SMA/SMK.
Selain itu pembangunan rumah bantuan untuk korban banjir, dan proyek sumur bor dari BNPB.
Drastisnya pembangunan ini, secara otomatis mendongkrak perekonomian daerah khususnya dari serapan tenaga kerja lokal, dan mendongkrak pendapatan pengusaha/pedagang bangunan lokal sebagai penyedia berbagai material yang dibutuhkan pelaksana pekerjaan.
Hasil pantauan dilapangan, sejumlah material pokok sangat menentukan progres pekerjaan di lapangan.
Tak ayal, efek dari langkanya material pokok tersebut— seperti semen— menyebabkan proses pekerjaan terhambat.
Hasil amatan di lapangan, sejumlah material naik drastis dan melampaui tarif harga normal seperti semen, bata, seng, besi, rangka baja, plafon dan material lainnya.
Sebagai contoh, semen naik drastis dari sebelumnya berada pada kisaran harga Rp. 55-65 per zak. Kini naik drastis menjadi Rp.93 ribu per zak. Sementara dalam RAB harga yang ditetapkan perencana harga tertinggi semen hanya Rp.69 ribu, bata Rp.800 per biji sedangkan di lapangan harga bata sudah mencapai Rp 1.000-1.200 per biji.
“Kondisi ini membuat kami pelaksana pekerjaan menjadi dilema, antara kelangkaan dan tekanan Harga yang tinggi. Selain itu tenggat waktu pekerjaan yang terbatas hanya 120 hari sejak pekerjaan dimulai,” ungkap salah satu pelaksana pekerjaan revitalisasi sekolah di Aceh Timur.
Kelangkaan dan melonjaknya harga material ini, diduga akibat akibat secara bersamaan kontraktor membutuhkan material yang sama dan sama-sama memacu progres pekerjaan yang dikejar deadline.
“Benar-benar ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksana kegiatan. Disamping dituntut belanja material sesuai RAB, pelaksana juga dituntut melaksanakan pekerjaan selesai tepat waktu,” ungkap salah satu pelaksana proyek revitalisasi sekolah di Aceh Timur, Selasa (4/8/2026).
Efeknya, dan sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab pelaksana kegiatan, meski harga mahal pelaksana kegiatan harus mampu mengendalikan progres pekerjaan tetap berjalan dengan tetap memasok material yang tetap tersedia ditengah tekanan harga yang tinggi dan kelangkaan material.
“Tidak ada cara lain. Di samping kita memohon ada revisi juknis tentang penyesuaian harga material, dan memohon kepada pemerintah untuk menstabilkan harga dan memastikan stok material aman dan tersedia di lapangan,” harapnya.
Akibat langkanya material ini, sehingga terjadi persaingan harga yang menyebabkan harga melonjak drastis.
“Sebab lain ini patut diduga adanya permainan oknum nakal yang menyimpan stok semen sehingga terjadi kelangkaan dan dikeluarkan pada momen pembeli meningkat dengan tekanan harga yang tinggi. Oknum seperti ini terkesan hanya mementingkan keuntungan semata-mata,” cetusnya.(*)
