metropesawat.com, ACEH TIMUR –
Manajemen Hotel Royal Idi, akhirnya membeli miniatur kapal motor karya narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas ll B Idi, dengan harga fantastis.
Sebelumnya usai peringatan HUT ke-81 RI, pada 17 Agustus 2026 silam, Ismail Abda pembina Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT) dan wartawan metropesawat.com, sempat memberitakan keluhan Napi Lapas Idi, atas nama Mahdi, yang membuat miniatur Kapal Motor pesanan Hotel Royal Idi namun sudah dua tahun selesai tak kunjung diambil.
Waktu itu, Mahdi menceritakan, kapal motor dengan ukuran 50×200 cm itu dibuat atas pesanan pihak manajemen Hotel Royal Idi, Aceh Timur.
Kapal tersebut sudah selesai dikerjakan sekitar 2 tahun lalu dengan harga yang disepakati Rp15.000.000. Namun waktu itu, pesanan tersebut belum diambil pihak manajemen Hotel.
Waktu itu media ini juga meminta tanggapan pihak manajemen Hotel Royal Idi, dan membenarkan bahwa miniatur kapal motor tersebut dipesan langsung oleh Owner Hotel Royal Idi.
“Alhamdulillah miniatur kapal motor tersebut sudah diambil oleh pihak manajemen Hotel Royal Idi, Rabu kemarin,” ungkap Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas ll B Idi, Heriyanto Syafrie, melalui Kasi Binadik, Muhammad Arifin, kepada metropesawat.com, Kamis (3/9/2026) malam.
Arifin menjelaskan, pihak Hotel Royal Idi melakukan pembayaran langsung kepada napi pembuat miniatur kapal motor tersebut.
“Dibayarkan langsung kepada tukang pembuat miniatur kapal motor tersebut dengan harga senilai Rp 12 juta,” jelas Arifin.
Sementara Lapas Idi dalam hal ini, jelas Arifin, hanya memfasilitasi pembinaan karya Napi tersebut.
“Modalnya juga milik napi tersebut. Mereka menghabiskan modal Rp 8 juta untuk membuat miniatur kapal motor tersebut,” jelas Arifin.
Lapas Idi, jelas Arifin, konsisten mendukung kegiatan pembinaan kemandirian warga binaan Lapas Idi melalui bidang kegiatan kerja.
Kegiatan ini, jelasnya, menjadi salah satu bentuk nyata dukungan terhadap hasil karya warga binaan agar dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.
“Miniatur Kapal tersebut dibuat melalui proses pembinaan kemandirian yang bertujuan meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta produktivitas warga binaan. Melalui kegiatan ini, warga binaan diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kerja yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat,” jelas Arifin.
Dengan adanya penjualan hasil karya kepada Hotel Royal Idi, Lapas Kelas IIB Idi terus berupaya mengembangkan pembinaan kemandirian yang produktif dan berkelanjutan.
“Keberhasilan ini diharapkan dapat memotivasi warga binaan untuk terus berkarya serta menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.
Sementara itu, Seni Hendri, Ketua Persatuan Wartawan Aceh Timur (PESAWAT) mengapresiasi inisiatif manajemen Hotel Royal Idi, membeli karya Napi Lapas Idi dengan harga fantastis.
“Hal ini tentunya menjadi motivasi bagi napi lainnya untuk terus berkarya dibawah binaan Lapas Idi. Kita juga mengapresiasi, Lapas Idi yang konsisten membina dan memfasilitasi bakat minat para Napi untuk terus karyanya,” ungkap mantan Jurnalis Serambi Indonesia ini.
Miniatur kapal motor tersebut, jelas Hendri, bukan hanya sekedar rangkaian dari sebuah benda, melainkan sebagai ikon daerah yang memiliki histori sejarah sebagai daerah penghasil ikan tangkap yang melimpah. (*)
