Artinya: Pada malam pertama, dosa orang mukmin (yang melakukan tarawih) akan keluar seperti ketika ibunya melahirkan ia ke dunia.
يَخْرُجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِى اَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ
Artinya: Pada malam pertama, dosa orang mukmin (yang melakukan tarawih) akan keluar seperti ketika ibunya melahirkan ia ke dunia.
Malam Ke 1 | Seiring dengan penetapan 1 Ramadhan, umat Muslim di berbagai penjuru tanah air mulai memadati masjid dan musala untuk melaksanakan shalat Tarawih perdana. Ibadah qiyamul lail ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah momentum transformasi spiritual yang memiliki kedudukan istimewa dalam literatur Islam.
Dalam diskursus keislaman, merujuk pada beberapa literatur klasik seperti kitab Durratun Nasihin, malam pertama shalat Tarawih disimbolkan sebagai fase penyucian total. Keutamaan yang ditekankan pada malam pembuka ini adalah pengampunan dosa yang komprehensif.
” Pada malam pertama, Allah SWT memberikan anugerah kepada hamba-Nya yang mendirikan shalat Tarawih dengan penuh keimanan, berupa pembersihan dosa sehingga ia kembali suci laksana bayi yang baru dilahirkan.”
Pesan ini mengandung makna filosofis bahwa Ramadhan dimulai dengan “lembaran putih”. Dengan dihapuskannya beban dosa di malam pertama, seorang mukmin diharapkan memiliki kesiapan mental dan spiritual yang optimal untuk menjalankan ibadah puasa selama 30 hari ke depan.
Para ulama menekankan bahwa fadhilah ini tidak didapatkan secara otomatis, melainkan melalui beberapa pilar penting
Ikhlas Menjalankan ibadah semata-mata karena ketaatan kepada Allah, bukan sekadar mengikuti euforia sosial.
Khusyuk Menghadirkan hati dalam setiap rakaat, menyadari bahwa setiap bacaan adalah dialog antara hamba dan Pencipta.
Istiqomah Malam pertama merupakan pintu gerbang. Profesionalisme dalam beribadah diukur dari bagaimana seseorang menjaga ritme ibadahnya hingga akhir bulan.
Secara sosiologis, shalat Tarawih malam pertama juga berfungsi sebagai sarana mempererat silaturahmi antarwarga (ukhuwah Islamiyah). Kehadiran jamaah yang melimpah menunjukkan gairah religiusitas yang tinggi, yang diharapkan dapat dikonversi menjadi perilaku sosial yang positif selama bulan suci.
Eksistensi fadhilah malam pertama ini seharusnya menjadi katalisator bagi setiap individu untuk merefleksikan diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memperkuat komitmen spiritual kepada Tuhan.
