Oleh: Maulana Amri, M.Sos
(Sekretaris PWI Aceh Timur)
Metropesawat.com,Aceh Timur | Ruang publik di era media sosial bergerak sangat cepat. Dalam hitungan menit, sebuah isu dapat menyebar ke ribuan layar, memancing emosi, membentuk persepsi, bahkan menghakimi seseorang sebelum fakta selesai diperiksa.
Di tengah situasi ini, masyarakat sering kali kesulitan membedakan antara kritik yang sehat dengan serangan yang lahir dari kebencian (haters) maupun manuver para pendengung (buzzer). Padahal, ketiganya memiliki karakteristik dan motif yang sangat berbeda.
Kritik merupakan pilar penting dalam demokrasi. Pemerintah, pejabat publik, hingga tokoh masyarakat sudah semestinya terbuka terhadap masukan. Tanpa kritik, kekuasaan mudah kehilangan kontrol dan kebijakan berpotensi berjalan tanpa koreksi. Oleh karena itu, kritik seharusnya dipandang sebagai “vitamin” bagi demokrasi, bukan sebuah ancaman. Baca Juga : Program Pascasarjana IAIN Langsa Gelar Lepas Sambut Pejabat
Namun belakangan, ruang digital kita justru memperlihatkan gejala yang mengkhawatirkan. Banyak percakapan tidak lagi berfokus pada kebijakan atau program publik, melainkan bergeser pada serangan pribadi, ejekan, prasangka, hingga upaya membangun narasi kebencian secara masif.
Lanjut Baca Halaman Selanjutnta..
