“ Kami turun bukan untuk sekadar membawa bantuan, tetapi membawa harapan bahwa masyarakat tidak sendiri dalam menghadapi bencana ini,” tegas Zulfadli.
PEMA UNADA menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, menjuluki bantuan ini sebagai “napas, harapan, dan bukti bahwa kemanusiaan masih hidup.”
Seluruh mahasiswa UNADA yang telah menyisihkan rezeki, ORMAWA UNADA yang tetap bergerak di kondisi ekstrem. Para relawan lapangan yang tidak mundur walau arus sungai mengancam. Masyarakat Banda Aceh yang turut menyumbang logistik. Setiap tangan yang bekerja tanpa publikasi namun bernilai besar.
Aceh telah berulang kali diuji oleh bencana, namun kebangkitan Aceh hanya mungkin terjadi jika pemerintah hadir tepat waktu, bukan setelah air surut dan luka mengering.
Semoga keikhlasan ini menjadi cahaya bagi saudara-saudara di Nagan Raya dan langkah kecil ini dapat menghapus air mata warga yang kini masih bertahan di pengungsian.
Editor : Jamadon
