Sejumlah aktivis lintas organisasi mulai bergerak. Dalam diskusi-diskusi tertutup, nama Bustami kian sering disebut sebagai ancaman bagi stabilitas birokrasi. Mereka menyebut gaya kepemimpinannya sebagai “kanker yang menyebar di dalam sistem.” Jika tidak dipotong sekarang, maka penyakitnya akan melumpuhkan seluruh tubuh birokrasi pendidikan.
Pendidikan bukanlah ladang untuk memupuk arogansi. Ia adalah tempat subur bagi benih-benih masa depan. Ketika seorang kepala dinas justru menjadikannya sebagai panggung tirani, maka yang lahir bukan generasi emas, tapi generasi takut bicara.
Kini publik tidak butuh klarifikasi manis. Mereka ingin tindakan nyata. Bupati Iskandar tidak boleh tinggal diam. Jika ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin berani dan berpihak kepada rakyat, maka ini saatnya.
Evaluasi menyeluruh terhadap Plt Kadisdikbud adalah harga mati. Jangan biarkan kekuasaan di sektor pendidikan dijalankan oleh tangan yang kaku dan pikiran yang sempit. Jangan biarkan ASN hidup dalam ketakutan, guru kehilangan semangat, dan anak-anak tumbuh di bawah bayang-bayang institusi yang korup moral.
Dan jika benar bahwa Bustami menjabat hanya karena kedekatan politik, maka itu harus dihentikan. Aceh Timur tidak kekurangan orang cerdas dan bersih untuk memimpin sektor pendidikan. Kita tidak butuh diktator baru di zaman reformasi.
Tanggapan Kadisdikbud Aceh Timur: Bustami
Terkait kritikan publik terhadap gaya kepemimpinannya, Plt Kadisdikbud Aceh Timur, Bustami memberikan tanggapan sebagai berikut.
Halaman berikutnya >>>>
