Puluhan aktivis tuntut penuntasan pelanggaran HAM dan kecam represivitas aparat
Metropesawat.com,BANDA ACEH – Puluhan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Kamisan Aceh menggelar aksi damai bertema “September Hitam: Menolak Lupa Tragedi Tanjung Priok” pada Kamis sore, 10 September 2026, di Taman Ratu Safiatuddin, Jalan Teuku Nyak Arief, Gampong Lampriet, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.
Aksi yang berlangsung pukul 17.45 hingga 18.25 WIB itu menjadi ruang konsolidasi kolektif untuk menuntut negara menuntaskan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia masa lalu di Indonesia.
Aksi dipimpin oleh Iza Mukhlisin selaku Koordinator Lapangan. Sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus turut hadir, di antaranya Ketua Himpunan Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Syiah Kuala Rizqa Rahmatillah dan mahasiswa Fakultas Pertanian USK Muhammad Zakian.
Dorong Gerakan Kolektif dan Sikapi Tindak Represif Aparat
Rizqa Rahmatillah menegaskan bahwa Kamisan Aceh merupakan ruang bersama seluruh elemen masyarakat, bukan milik kelompok tertentu.
“Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, kami rutin menggelar diskusi informal menjelang aksi guna menyusun agenda perjuangan,” ujarnya.
Di sisi lain, massa juga mengecam tindakan represif oknum aparat yang terjadi beberapa hari sebelum aksi. Muhammad Zakian mengungkapkan bahwa pada Minggu pagi sebelumnya, sejumlah aktivis — termasuk Misbah, Ketua MPN Unmuha, dan Apis — mengalami pemukulan oleh sekitar 8-10 orang oknum aparat di depan Kodim 0101.
“Sebelumnya kami telah mengajukan surat permohonan pengamanan dan perlindungan agar kegiatan berlangsung aman. Namun surat tersebut ditolak, hingga berujung pada aksi pemukulan. Pemenuhan hak menyampaikan pendapat seharusnya dijamin, bukan dibalas dengan kekerasan,” tegas Zakian.

September Hitam dan Pengabaian Kasus HAM oleh Pemerintah
Koordinator Lapangan Aksi, Iza Mukhlisin, menyampaikan sejumlah poin krusial terkait momentum September Hitam dan konsistensi Gerakan Kamisan:
- Peringatan Tragedi Tanjung Priok
Aksi ini menyoroti Tragedi Tanjung Priok 12 September 1984 sebagai salah satu rekam jejak kelam pelanggaran HAM berat yang belum diselesaikan secara adil. - Kritik terhadap Pemimpin Nasional
Gerakan Kamisan yang konsisten berjalan sejak 2007 membuktikan bahwa pergantian rezim kepemimpinan nasional hingga saat ini belum mampu memberikan penuntasan maksimal terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM. - Tuntutan Sikap Tegas Pemerintah
Pemerintah didesak agar tidak menutup mata dan bersikap apatis terhadap aspirasi masyarakat. Aksi damai Kamisan Aceh akan terus berpindah lokasi dan menyuarakan isu-isu HAM selama keadilan belum ditegakkan.
Kamisan Aceh menegaskan akan terus konsisten menggelar aksi damai secara berkala demi merawat ingatan publik dan menuntut negara bertanggung jawab penuh atas seluruh pelanggaran HAM di Indonesia.
Laporan : Khairul Munzir : Banda Aceh
Editor : Jamadon
Artikel.
- Warga Dusun T. Banta Aceh Timur Kompak Gelar Kenduri Peringati Maulid Nabi 1448 H
- Terkait Isu Napi Bebas Pakai Narkoba dan Dapat Fasilitas Khusus, Kalapas Kelas II B Idi Lakukan Evaluasi Menyeluruh
- Lembaga Sirul Mubtadin Aceh Timur Gelar Rapat, Abi Kamaruddin Kembali Pimpin Periode 2026–2031
- Tokoh Aceh Timur Minta SPPG Dipertahankan
- Syuhada Apresiasi Bupati Aceh Timur Genjot Pembangunan Jalan di Pedalaman
