Laporan Khairul Munzir Banda Aceh | Reporter
metropesawat.com, BANDA ACEH | Tuntutan untuk selalu berpikir positif dan tampak bahagia di era modern justru berpotensi menjadi bumerang yang merusak kesehatan mental, khususnya di kalangan mahasiswa dan generasi muda. Fenomena yang dikenal sebagai toxic positivity atau positivitas toksik ini kini menjadi perhatian serius di lingkungan akademik.
Budaya yang menekankan emosi positif secara berlebihan serta menolak emosi negatif, seperti sedih, kecewa, dan marah, dinilai tidak membangun resiliensi. Sebaliknya, hal itu membuat individu kehilangan ruang aman untuk memvalidasi perasaannya sendiri. Kondisi ini dapat memicu stres, kecemasan, hingga hilangnya rasa percaya diri.
“Banyak mahasiswa yang berada di bawah tekanan akademik dan sosial merasa wajib untuk selalu tampak kuat dan baik-baik saja. Ketika mengalami kegagalan, respons yang diterima justru ‘jangan sedih, harus tetap bersyukur’ tanpa diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya,” demikian salah satu poin yang disoroti dalam kajian tersebut.
Fenomena ini, menurut kajian Sumakul et al. (2025), tidak berdiri sendiri. Tekanan emosional tersebut berkelindan erat dengan dinamika relasi sosial yang tidak sehat, baik dalam pertemanan (toxic friendship) maupun keluarga (toxic parents).
Dalam pertemanan, bentuknya berupa pengkhianatan seperti penyebaran rahasia pribadi, perundungan berbasis fisik dan status sosial, hingga pengucilan kelompok. Di era digital, batas antara realitas dan pencitraan maya yang sempurna menjadi kabur, sehingga generasi muda merasa harus selalu terlihat bahagia demi mendapat penerimaan sosial (Putri & Komalasari, 2025; Kanda & Kivania, 2024).
Ironisnya, ketika korban mengalami pengkhianatan atau pengucilan, respons lingkungan yang meremehkan dengan kalimat “ambil sisi baiknya saja” justru memperparah penderitaan psikologis.
Hal serupa juga terjadi dalam keluarga. Pola asuh yang salah, seperti mendidik dengan cara kasar, membentak, melimpahkan amarah, hingga menuntut anak untuk ‘balas budi’ tanpa memahami kondisi emosionalnya, dapat menciptakan lingkungan rumah yang tidak aman secara psikologis (Nikmatus et al., 2024).
Padahal, rumah seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang, bukan sumber ketakutan. Kasih sayang orang tua seharusnya diwujudkan melalui komunikasi, pengertian, dan kesediaan mendengarkan, bukan tuntutan berlebihan.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda relasi dan pola pikir yang merusak sejak dini. Langkah yang dapat dilakukan adalah membangun komunikasi yang empatik, berani keluar dari lingkaran relasi toksik, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk memvalidasi segala bentuk emosi.
Psikologi positif yang tepat, pada dasarnya bukan memaksa seseorang untuk selalu bahagia atau mengabaikan kesedihan. Namun, membantu individu mengenali potensi diri, membangun ketahanan psikologis, dan menemukan makna hidup tanpa harus menyangkal emosi yang dirasakan.
“Menjadi pribadi yang positif bukan berarti tidak boleh bersedih, melainkan mampu menerima kenyataan dan menghadapi setiap emosi dengan cara yang sehat,” pungkas kajian tersebut.
Artikel Terdahulu
- Perbaikan Pompa SPAM Waduk Belanda Selesai, Layanan Air PDAM Kembali Normal
- Waspada Jebakan Positivitas Toksik, Tuntutan Selalu Bahagia Justru Rusak Kesehatan Mental
- YARA Minta MPR Aktifkan Referendum
- Waspada Jebakan Positivitas Toksik, Tuntutan Selalu Bahagia Justru Rusak Kesehatan Mental
- Perbaikan Pompa SPAM Waduk Belanda Selesai, Layanan Air PDAM Kembali Normal
