Laporan Seni Hendri Jurnalis metropesawat.com
metropesawat.com, ACEH TIMUR –
Viral di media sosial aksi demo siswa-siswi SMAN 1 Simpang Ulim, Aceh Timur, yang melakukan protes terhadap kebijakan kepala sekolah yang melakukan penebangan terhadap sejumlah pohon yang berada di lingkungan sekolah.

Dalam melakukan aksi protes, siswa siswi SMAN 1 Simpang Ulim juga membawa sejumlah kertas bertuliskan aspirasi “Stop Rusak Pohon, Malu Sama Seragam”. “Pohon sekolah dijaga, bukan ditebang”, demikian kata-kata yang tertulis pada kertas yang dipegang sejumlah siswa.
Dalam tayangan video di akun tiktok Aksara Dunia, memperlihatkan siswa-siswi sedang melakukan aksi demo sembari menyampaikan aspirasi “Diduga Kepsek tidak terbuka dalam program perbaikan rumah sekolah melalui program Revitalisasi tahun 2026”.
Dalam tayangan video lainnya yang menampilkan suasana sedang rapat seorang guru SMAN 1 Simpang Ulim, menyampaikan uneg-uneg dan dan aspirasinya.
Guru tersebut mengatakan bahwa SMAN 1 Simpang Ulim sebelumnya berprestasi. Hal ini dibuktikan banyak mendapatkan penghargaan dari berbagai event dan perlombaan.
“Kami pernah mendapatkan penghargaan dua kali dari Mandala karena keindahan pepohonan ini dan kenyamanannya. Saya guru berprestasi pada tingkat dua di Aceh Timur, tapi dari lisan kepala sekolah dia katakan saya idiot, saya dikatakan tidak punya tata Krama. Dan saya dikatakan tidak punya kompetensi di depan anak-anak, hanya karena saya ajukan satu ide. Saya bekerja disini sudah 23 tahun, sedangkan beliau baru delapan bulan tapi berani dan berhasil merusak karya kami 20 tahun lalu. Aspirasi yang kami laporkan ini tidak direkayasa maupun manulatif,” ungkap guru tersebut mewakili aspirasi guru-guru lainnya.

Tanggapan Kepala SMA Negeri 1 Simpang Ulim
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Simpang Ulim, Laina Fariyani SE MM, dalam keterangan tertulis yang diterima media ini membenarkan siswa melakukan demo karena dilakukan penebangan hutan di lingkungan sekolah.
Alasan dilakukan penebangan, ungkap Laina, karena akar pepohonan tersebut semakin lama semakin membesar dan merusak lantai sekolah, menghasilkan sampah yang banyak, mengganggu aliran listrik karena kabelnya tersangkut di pepohonan dan menjulang, juga mengganggu persawahan milik masyarakat.
Laina menyebutkan pepohonan itu kebanyakan berada di dekat parit, sehingga saat hujan mengakibatkan banjir karena aliran parit tersumbat akibat akar pohon yang menjadi penghalang.
“Penebangan pepohonan besar ini juga perintah kepala cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Timur, yang telah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Aceh,” jelasnya.
Laina juga mengatakan pohon yang sudah ditebang, nantinya juga akan ditanam kembali dengan pepohonan yang produktif dan manfaatnya bisa dirasakan oleh warga sekolah dan generasi berikutnya.
Pasca penebangan pepohonan ini, membuat lingkungan sekolah bersih sehingga bisa ditata kembali dengan membangun lapangan futsal, dan lapangan lainnya agar siswa dapat melakukan aktivitas olahraga.
Aksi demo yang dilakukan para siswa, jelas Laina, sah-sah saja, namun ia berpesan kepada siswa agar tidak terprovokasi hasutan dari pihak-pihak tertentu. “Mari kita semua menjaga keamanan dan ketertiban sekolah dengan suasana sejuk dan menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan,” harapnya.
Laina kembali menegaskan bahwa penebangan pepohonan itu semata-mata untuk menata lingkungan kembali.
“Saya berharap tidak menimbulkan pandangan negatif dari masyarakat bahwa seolah-olah saya anti penghijauan. Tapi niat baik dibalik penebangan pohon ini kita ingin menata kembali lingkungan sekolah, menanam pohon yang berbuah sehingga bermanfaat bagi warga sekolah dan anak-anak ke depan,” ungkap Laina.
Tanggapan Kepala Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Timur
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Aceh Timur, Rahmatsah Putra, membenarkan penebangan pepohonan di lingkungan sekolah SMA 1 Simpang Ulim dikarenakan beberapa alasan yang sangat mendasar.
Pertama, katanya, menyebabkan kerusakan infrastruktur.
Hal ini, karena akar pohon tua yang terus membesar merusak fondasi bangunan, memecah lantai kelas, dahan-dahan memebesar merusak atap bangunan dan saluran, serta mengangkat permukaan trotoar atau lapangan sekolah.
Kedua, karena faktor pencahaan dan estetika yang meredup.
Pohon yang terlalu rimbun dan tua, jelas Kacabdin, menghalangi sinar matahari masuk ke dalam ruang kelas, membuat suasana menjadi lembap, gelap, dan kurang sehat untuk proses belajar.
Ketiga untuk Pembangunan Saluran parit.
Sekolah, jelas Kacabdin, harus memprioritaskan pembuatan parit di sepanjang area rawan genangan agar air hujan memiliki jalur mengalir menuju saluran pembuangan utama warga, bukan tertahan di lapangan atau halaman sekolah.
Kerusakan infrastruktur dan merugikan finansial.
Keempat, jelas Kacabdin, biaya untuk memperbaiki gedung jauh lebih mahal daripada biaya penebangan. Dana sekolah lebih baik dialokasikan untuk fasilitas pendidikan siswa.
Peremajaan Ekologis yang Lebih Produktif
Kelima, lanjutnya, penebangan pohon tua bukan berarti merusak alam, melainkan bagian dari siklus manajemen lingkungan.
“Pohon tua akan digantikan dengan tanaman baru yang lebih efektif menyerap karbon (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2) segar bagi area sekolah,” jelasnya.
Optimalisasi Fasilitas Pembelajaran.
Keenam, lanjutnya, lahan bekas pohon tua dapat dialihfungsikan menjadi fasilitas yang lebih mendesak bagi siswa, seperti area parkir, lapangan olahraga, taman literasi, atau hal lainnya.
“Kita berharap kawan – kawan warga sekolah agar tidak memprovokasi keadaan yang sedang kita benahi ehingga menjadi riuh di medsos yang dapat merusak citra nama sekolah,” pesan Kacabdin.(*)
