Oleh: Iskandar Ishak |
Apa yang terjadi pada hari ini, Kamis 8 Oktober 2026, di Aceh Timur patut dicatat sebagai sebuah kemajuan dalam cara kita menyelesaikan konflik agraria.
Jika pada 24 September lalu masyarakat memilih jalan aksi turun ke jalan, hari ini Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky memilih jalan dialog. Ia menerima langsung perwakilan kelompok tani untuk audiensi.
Ini adalah pilihan yang tepat. Demokrasi tidak selalu harus bising di jalanan. Terkadang, solusi justru lahir dari duduk bersama dalam satu ruangan.
Dari rekaman keterangan Bupati, ada beberapa poin penting yang patut kita apresiasi:
Pertama, adanya pengakuan dan solusi bersama. Bupati tidak menepis persoalan. Ia bersama Forkopimda mendengarkan langsung keluh kesah petani dan menawarkan solusi kelembagaan, yakni pembentukan Tim Bersama Penyelesaian Konflik Agraria.
Ini mengubah pola perjuangan. Dari yang tadinya bersifat parsial dan sporadis, kini menjadi lebih terstruktur dan legal.
Kedua, keberanian untuk membawa masalah ini ke level yang lebih tinggi. Bupati secara terbuka menyampaikan bahwa persoalan HGU bukanlah kewenangan penuh kabupaten. Ia berkomitmen akan memperjuangkan aspirasi petani bersama-sama hingga ke tingkat Provinsi dan bahkan ke Kementerian ATR/BPN di Jakarta.
Pernyataan “Kami akan mendampingi langsung perjuangan teman-teman” adalah sebuah jaminan politik yang kuat. Ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak lepas tangan.
Ketiga, ada bukti kerja yang sudah dimulai. Bukan hanya janji, Bupati menyebut telah menandatangani surat terkait evaluasi 6 perusahaan pemegang HGU untuk disampaikan kepada Gubernur Aceh. Ia juga menyebut sedang mereview dokumen lama termasuk terkait PT Bumi Flora.
Artinya, mesin birokrasi sudah mulai bekerja. SK untuk perwakilan petani pun dikatakan sudah siap tinggal ditandatangani.
Tentu, sebagai masyarakat kita tidak boleh berhenti pada apresiasi saja. Kita harus mengawal.
Pembentukan tim ini harus benar-benar menjadi tim kerja, bukan tim formalitas. Pemetaan masalah yang dijanjikan harus transparan dan melibatkan akar rumput. Dan yang paling krusial, jadwal keberangkatan ke Jakarta yang akan diatur tim tersebut harus benar-benar terlaksana dan membawa hasil, bukan sekadar kunjungan seremonial.
Jika semua itu dilakukan, maka batalnya aksi besar hari ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjuangan yang sesungguhnya: perjuangan di meja perundingan dan di meja kebijakan.
Kita menaruh harapan besar. Konflik agraria yang telah berlarut-larut di Aceh Timur ini butuh pemimpin yang berani pasang badan. Dan hari ini, Bupati telah menunjukkan niat itu.
Kini tugas kita bersama adalah memastikan niat baik itu sampai ke garis finish: kembalinya hak-hak masyarakat atas tanahnya.
Mari kita kawal bersama.
Editor : Jamadon
Artikel Terdahulu.
- OPINI: Langkah Maju Bupati Aceh Timur – Dari Jalanan Menuju Meja Perjuangan
- Tokoh Masyarakat Gayo Rahmadsyah: Bupati Aceh Timur Perlu Reformasi semua HGU yang Diterbitkan tahun 1990 an
- TK Al-Fatihah Hadirkan Psikolog, Ayu Fajri: Peran Ayah sangat Penting dalam Pengasuhan Anak
- Bupati Aceh Timur Terima Audiensi Petani, Bentuk Tim Bersama Selesaikan Sengketa HGU
- Polres Aceh Timur Siap Siaga Amankan Wacana Aksi Demo Terkait HGU Besok
