metropesawat.com, ACEH TIMUR – Pagi baru saja merekah ketika perahu kayu bermesin tempel itu membelah alur sungai di pedalaman Aceh Timur. Air masih kecokelatan, sisa banjir yang merendam permukiman beberapa hari terakhir. Di atas perahu, Kapolsek Simpang Jernih, Ipda Safwadinur, S.H.,M.H. bersama sejumlah personel memegangi kardus-kardus berisi bahan pokok. Tujuan mereka: titik pengungsian di Kecamatan Simpang Jernih, wilayah yang terisolasi pasca bencana hidrometeorologi.
Jumat, (20/02/2026), sekitar pukul 07.30 WIB, penyaluran bantuan sosial kemanusiaan dari Kapolri melalui Polres Aceh Timur resmi digelar. Bantuan itu ditujukan bagi warga terdampak banjir dan cuaca ekstrem yang memaksa mereka meninggalkan rumah dan bertahan di pengungsian.
Akses darat yang terbatas membuat jalur sungai menjadi pilihan. Perjalanan memakan waktu beberapa jam. Sesekali perahu harus melambat menghindari batang kayu yang hanyut.
Setiba di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih, bantuan diterima oleh keuchik dan perangkat desa setempat. Warga, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah menunggu di balai darurat yang dijadikan lokasi pengungsian. Wajah lelah mereka sedikit mencair saat kardus-kardus bantuan diturunkan.
Bantuan yang disalurkan meliputi air mineral, beras, biskuit, mie instan, minyak goreng, dan sarden serta kebutuhan pokok lainnya untuk menjaga asupan gizi di tengah keterbatasan. Selain itu, turut dibagikan sarung, sajadah, pampers, serta pembalut wanita, kebutuhan personal yang kerap luput namun mendesak di situasi darurat.
Ipda Safwadinur menyebut bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian pimpinan Polri terhadap masyarakat yang terdampak bencana. “Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban warga selama masa tanggap darurat,” ujarnya di sela kegiatan.
Penyaluran berlangsung hingga sekitar pukul 11.10 WIB. Tanpa insiden, kegiatan berjalan aman dan lancar. Namun, pekerjaan belum benar-benar usai. Bagi warga Simpang Jernih, pemulihan pascabencana masih menjadi jalan panjang dan sungai yang tadi diarungi aparat kepolisian menjadi saksi bahwa solidaritas tetap menemukan jalannya. (Iwan Gunawan).
